Tahun 2018 merupakan tahun yang pelik bagi klub asal palembang, Sriwijaya FC. Pada musim lalu, klub yang pernah menjadi juara piala indonesia ini harus rela turun kasta ke Liga 2 Indonesia. Tak hanya harus turun kasta, polemik internal pun menyebabkan Sriwijaya FC tidak mampu membayarkan gaji pemain mereka.

Memulai musim dengan materi pemain bertabur bintang dan digadang-gadang sebagai calon kuat juara Liga 1, ternyata menjadi boomerang bagi klub Sriwijaya FC. Pengelolaan keuangan klub yang tidak baik, Manajerial tim yang tidak profesional dan konflik internal memaksa tim ini harus tampil apa adanya di paruh kedua musim 2018. Penurunan prestasi terus menerus terjadi hingga memaksa Sriwijaya harus merasakan pahitnya degradasi.

Tak cukup menerima pil pahit degradasi, permasalahan internal menyebabkan kewajiban klub untuk membayarkan gaji pemain juga terjadi. Berusaha mencari jalan keluar, pihak klub Sriwijaya sudah menemui perwakilan PSSI berkaitan solusi yang dapat digunakan

“Walau kita memiliki piutang di tempat lain, bukan berarti hal itu menggugurkan apa yang menjadi kewajiban kita. Jadi kami meminta kepada Sriwijaya FC untuk melunasi gaji pemainnya,” kata Sekretaris Jenderal PSSI Ratu Tisha Destria di Jakarta (11/4).

Polemik tunggakan gaji, juga dialami ex-alumnus Liga 1 2018 lainnya. Seperti dikabarkan sebelumnya, PSMS Medan juga terlilit hal yang sama dengan Sriwijaya FC.

Permasalahan tunggakan gaji harus diselesaikan dengan cepat, FIFA sendiri mengeluarkan kebijakan yang tegas berkaitan permasalahan tunggakan gaji. FIFA memberlakukan hukuman larangan transfer langsung jika mereka gagal membayar kompensasi yang diberikan kepada pemain